Minggu, 02 Desember 2012
Kurikulum Pendidikan 2013, Apa yang Baru?
Lebih analitis, tanpa pembagian IPA-IPS. Jam belajar siswa bertambah.
Minggu, 2 Desember 2012, 20:08 Anggi Kusumadewi
http://fokus.news.viva.co.id/news/
VIVAnews – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai perlu dikembangkan kurikulum berbasis penguatan penalaran, bukan hafalan semata. Kurikulum pendidikan di Indonesia dipandang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Pola pembelajaran harus diarahkan untuk mendorong murid mencari tahu dan mengobservasi, bukan diberi tahu.
Kemendikbud pun menyusun perubahan kurikulum untuk tahun 2013. Kurikulum baru ini diuji publik selama tiga minggu mulai Senin, 3 Desember 2012. “Zaman sudah berubah. Kompetensi diperlukan untuk pengembangan intelektual siswa juga harus berubah, karena tantangan yang mereka hadapi di masa depan tidak akan sama dengan sekarang,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh.
Alasan perubahan kurikulium itu juga merujuk pada hasil sejumlah survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Misalkan pada 2007, survei ‘Trends in International Math and Science’ Global Institute mencatat hanya 5 persen siswa Indonesia mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sedangkan siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen.
Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal-soal kategori rendah yang hanya memerlukan hafalan, sementara siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Ditambah lagi dengan catatan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara peserta PISA. Diadakan tiga tahun sekali sejak 2000, PISA menyertakan siswa berusia 15 tahun dari 65 negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Kriteria penilaian PISA mencakup kemampuan kognitif, dan keahlian siswa dalam membaca, matematika, dan sains.
PISA 2009 memperlihatkan, hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara banyak siswa negara lain yang menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6. Survei Global Institute 2007 dan hasil PISA 2009 dalam dirangkum dalam satu kesimpulan: prestasi siswa Indonesia rendah dibanding negara lain.
IPA-IPS Hilang
Rancangan Kurikulum 2013 mengurangi mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Mata pelajaran SD yang sebelumnya ada 10 dipadatkan menjadi 6, sedangkan mata pelajaran SMP yang sebelumnya berjumlah 12 diringkas menjadi 10.
Enam mata pelajaran yang diajarkan di SD itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Kesenian. Sementara Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang sebelumnya ada di daftar mata pelajaran, akan diajarkan secara terpadu dengan pelajaran-pelajaran lain sesuai tema yang sedang dibahas.
“Misalnya di IPA ada tema soal air, maka tema air itu bisa jadi muatan di pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan PPKN,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, kepada VIVAnews, Minggu 2 Desember 2012. Dengan demikian, IPA dan IPS bukannya dihapus dari kurikulum, melainkan diintegrasikan dengan pelajaran lain berdasarkan tema.
Ibnu menjelaskan, khusus mata pelajaran IPA dan IPS ini, Menteri Nuh memberikan tiga alternatif pengintegrasian. Pertama, nama pelajaran IPA dan IPS sama sekali tidak dimunculkan, namun muatannya muncul di pelajaran-pelajaran lain. Kedua, IPA dan IPS dimunculkan mulai kelas 4 SD sampai 6 SD. Ketiga, IPA dan IPS akan dimunculkan sebagai pelajaran tersendiri untuk kelas 5 dan 6 SD.
“Intinya, yang dihapuskan adalah nama pelajarannya –IPA dan IPS. Namun substansi pelajaran IPA dan IPS tidak ada satu pun yang dihilangkan,” ujar Ibnu. IPA dan IPS bukan satu-satunya mata pelajaran yang akan diubah dalam kurikulum baru. Bahasa Inggris pun tidak akan masuk ke dalam mata pelajaran SD, tapi tetap diajarkan sebagai ekstra kurikuler.
Sementara itu, 10 mata pelajaran yang akan diajarkan di tingkat SMP adalah Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya dan Muatan Lokal, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Prakarya.
Meski mata pelajaran berkurang, namun jumlah jam pelajaran justru bertambah. Jam belajar siswa SD bertambah rata-rata empat jam per minggu. Untuk kelas 1 SD, jam belajar bertambah dari 26 menjadi 30 jam, kelas 2 SD dari 27 menjadi 32 jam, kelas 3 SD dari 28 menjadi 34 jam, dan kelas 4, 5, 6 SD dari 32 menjadi 36 jam.
Jam pelajaran siswa SMP pun bertambah enam jam per minggu, dan siswa SMA bertambah dua jam per minggu. Satu jam pelajaran adalah 35 menit, bukan 60 menit. Penambahan jam belajar ini dilakukan karena jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat dibanding negara-negara lain.
Model pembelajaran di kurikulum baru ini mendorong murid untuk mencari tahu dan melakukan observasi. Siswa diarahkan untuk merumuskan masalah (bertanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Murid dilatih untuk berpikir analitis (mengambil keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin). Siswa juga diajari untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.
“Kurikulum baru ini didesain menyiapkan generasi Indonesia yang lebih optimis, di mana terdapat keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan,” kata Ibnu.
Kualitas Guru
Perubahan kurikulum ini melalui empat tahap. Pertama, Kemendikbud mengembangkan kurikulum dengan melibatkan para pakar pendidikan, kebudayaan, sampai ilmuwan. Kedua, presentasi di depan Wakil Presiden RI Boediono pada 13 November 2012. Ketiga, uji publik selama tiga minggu untuk menghimpun berbagai masukan masyarakat. Keempat, memformulasi ulang masukan masyarakat.
Para pakar yang telah dimintai masukan antara lain Rektor Universitas Paramadina dan penggagas gerakan "Indonesia Mengajar" Anies Baswedan, fisikawan dan tokoh pendidikan Yohanes Surya, sejarawan Taufik Abdullah, serta sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad.
Anies Baswedan meminta pemerintah juga memperhatikan guru, di samping menyusun kurikulum pendidikan baru untuk murid. “Kurikulum baru ini mensyaratkan kompetensi guru yang lebih baik karena beban ada di guru. Menurut kurikulum baru, guru harus mengajar dengan cara berbeda,” kata Anies.
Oleh sebab itu Anies menekankan pada peningkatan kualitas guru ketimbang perubahan kurikulum. “Ini karena ujung tombak ada pada guru. Apapun muatan kurikulum yang diberikan pada murid, yang akan menyampaikan materi di kelas adalah guru. Jadi mengubah kurikulum tanpa meningkatkan kualitas guru, tak ada artinya,” kata dia.
Anies menyatakan, seorang murid menyukai pelajaran bukan karena bukunya, tapi karena gurunya. Ia mencontohkan, pelajaran matematika jadi menyenangkan jika gurunya menyenangkan. “Meski bukunya sama, namun kecintaan murid pada suatu pelajaran berbeda-beda. Jadi fokus pemerintah jangan hanya di hulu (kurikulum), tapi juga di hilir (guru),” ujarnya.
Wakil Presiden Boediono sendiri, menurut Anies, sudah memberikan arahan pada Kemendikbud untuk memperhatikan faktor guru. “Arahan Pak Boediono sudah betul. Harus ada juga tim khusus untuk guru supaya seimbang,” kata dia.(np)
Minggu, 09 September 2012
Jumat, 07 September 2012
Rabu, 05 September 2012
B A B I MENJELASKAN KAIDAH ESTETIKA DAN ETIKA SENI GRAFIS (NIRMANA)
Standar Kompetensi :
Menerapkan
prinsip-prinsip seni grafis dalam desain komunikasi visual untuk multimedia
Kompetensi Dasar :
Menjelaskan kaidah estetika dan etika seni garafis
(nirmana)
Sub Kompetensi Dasar :
1. Pengertian Desain Grafis
2. Unsur-unsur desain grafis
3. Prinsip-prinsip desain grafis
Peta Konsep :

Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa
mampu :
- Memahami pengertian desain grafis
- menyebutkan unsur-unsur desain grafis
- menyebutkan dan memahami prinsip-prinsip desain grafis
- Dapat membuat karya desain grafis
Pendalaman Materi
A. Pengertian
Desain Grafis
1. Pengertian
Menurut Suyanto, desain grafis adalah:
“Aplikasi dari ketrampilan seni dan komunikasi untuk
kebutuhan bisnis dan industri”. Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan
dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan
perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual
menyempurnakan pesan dalam publikasi.
Menurut Jessica
Helfand, desain grafis adalah:
“ kombinasi
komplek kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi
yang membutuhkan pemikiran khusus dari seseorang individu yang bisa
menggabungkan elemen-elemen ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu
yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subservis atau sesuatu yang mudah
diingat.”
Menurut Danton
Sihombing, desain grafis adalah :
“memperkerjakan
berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisaikan lewat
tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi,
sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.”
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan:
Desain grafis adalah suatu bentuk Komunikasi visual yang
menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin.
Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi
simbol-simbol yang bisa dibunyikan. Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi
dan fine art.
Seperti jenis desain lainnya, desain grafis dapat merujuk
kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan),
atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain).
Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan
keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi,
pengolahan gambar, dan tata letak.
2. Batasan Media :
Desain grafis pada awalnya
diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai
tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan
dalam media elektronik, yang sering kali disebut sebagai desain interaktif atau
desain multimedia.
Batas dimensi pun telah berubah seiring perkembangan
pemikiran tentang desain. Desain grafis bisa diterapkan menjadi sebuah desain
lingkungan yang mencakup pengolahan ruang.
Secara garis
besar, desain grafis dibedakan menjadi beberapa kategori:
a. Printing (Percetakan) yang memuat desain buku, majalah,
poster, booklet, leaflet, flyer, pamflet, periklanan, dan publikasi lain yang
sejenis.
b. Web Desain: desain untuk halaman web.
Film termasuk CD, DVD, CD multimedia untuk promosi.
Film termasuk CD, DVD, CD multimedia untuk promosi.
c. Identifikasi (Logo), EGD (Environmental Graphic Design) :
merupakan desain professional yang mencakup desain grafis, desain arsitek,
desain industri, dan arsitek taman. Desain Produk, Pemaketan dan sejenisnya.
Bab. 2 Membuat gambar sketsa
BAB II
MEMBUAT SKETSA
Gerbang Ilmu :
Kegiatan membuat sketsa merupakan
tradisi sejak zaman Renaissance. Namun demikian, di Indonesia khususnya di
Bali, membuat sketsa sudah dilakukan sejak zaman dahulu oleh seniman
tradisional yang disebut ngreka. Kegiatan
ini mendahului kegiatan melukis tradisional. Ngreka dilakukan dengan membuat bentuk-bentuk di atas kanvas
tradisional dengan menggunakan alat tajam dari bambu yang diraut berfungsi
sebagai pena. Tintanya dibuat dari jelaga dicampur dengan cairan perekat ancur. Saat ini bahan-bahan tradisional
terebut telah diganti dengan alat dan bahan yang lebih modern berupa pena dan
tinta Cina hitam.
Menggambar sketsa merupakan
bagian dasar dari menggambar, sedangkan menggambar merupakan kegiatan dasar
seni rupa, baik seni rupa dua dimensional maupun tiga dimensional. Hanya dengan
menggunakan secarik kertas dan sebuah pensil pikiran dapat divisualisasikan
dalam wujud sketsa. Dalam pembahasan ini yang dimaksud menggambar sketsa adalah
menggambar hanya dengan menggunakan garis dengan segala variasinya. Menggaris
dalam kegiatan menggambar merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar.
Dari goresan garis dapat diketahui seberapa kemampuan, ketrampilan dan kepekaan
keindahan dari pembuatnya. Oleh karena
itu kegiatan ini sangat mendasar dan penting untuk melatih keterampilan tangan
dalam menggambar dan kepekaan estetik.
Standar Kompetensi :
Menerapkan prinsip-prinsip seni grafis dalam desain komunikasi visual untuk
multimedia
Kompetensi Dasar :
Membuat sketsa
Sub Kompetensi Dasar :
1. Pengertian Sketsa
2. Manfaat sketsa
3.
Aturan-Aturan Dalam Membuat
Sketsa
Peta Konsep :
Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa
mampu :
- Memahami pengertian sketsa
- Menyebutkan manfaat sketsa
- Mengerti dan dapat menyebutkan aturan-aturan dalam membuat sketsa
- Dapat membuat bermacam-macan gambar sketsa.
Pendalaman Materi
A. Pengertian
Sketsa
merupakan gambar atau lukisan pendahuluan yang kasar ringan, semata-mata garis
besar atau belum selesai. Kadang kala hanya digunakan sebagai pengingat-ingat
saja. Sketsa atau sket (sketch) secara umum dikenal sebagai bagan atau rencana
bagi sebuah lukisan. Dalam pengertian itu, sketsa lebih merupakan gambar kasar,
bersifat sementara, baik diatas kertas atau di atas kanvas dengan tujuan untuk
dikerjakan lebih lanjut sebagai lukisan.
Menggambar
merupakan suatu usaha untuk mengkomunikasikan perasaan dan pikiran secara
visual kepada orang lain. Anak-anak senang dengan kegiatan menggambar, karena
dengan menggambar mereka dapat menuangkan pengalamannya mewujudkan
simbol-simbol visual dari apa yang pernah dilihatnya melalui bidang gambar.
Kegiatan
menggambar pada dasarnya memerlukan alat dan bahan yang sangat sederhana untuk
dapat membuat tanda goresan. Beberapa garis digoreskan pada bidang datar dapat
memberikan suatu kesan simbol tentang bentuk yang ada di sekitar kita. Dengan
demikian pikiran dan perasaan dapat diungkapkan dalam bentuk visual melalui
kegiatan menggambar, sehingga menggambar termasuk kegiatan mendasar dalam
berkarya seni rupa. Kegiatan menggambar
dapat pula dianalogikan dengan kegiatan menulis. Sebelum dapat menulis kalimat
seseorang harus dapat menulis huruf dan kata terlebih dahulu, demikian pula dengan
kegiatan berkarya seni rupa dan kria. Sebelum dapat membuat karya seni rupa dan
kria terlebih dahulu harus dapat menggambar seluruh bentuk-bentuk yang ada di
sekitar kita.
B.
Manfaat Sketsa
Sketsa mempunyai
beberapa fungsi, antara lain:
1.
Untuk lebih memberi gambaran tema
2.
Meminimalisir kesalahan
3.
Mempertajam pengamatan
4.
Meningkatkan kemampuan mengkoordinasikan
hasil pengamatan dan keterampilan tangan.
C. Aturan-Aturan Dalam Membuat Sketsa
1.
Membuat kerangka gambar yang terdiri dari garis-garis
vertical, horizontal, maupun lengkung secara tipis
2.
Menggambar garis sekundernya, misalnya melukis kerangka kubus
atau kotak dalam keadaan tipis
3.
Menebalkan garis sketsa yang sudah
benar. Ketebalan sesuai dengan karakter jenis garis yang diinginkan.
Perhatikan
dan amati contoh-contoh gambar sketsa di bawah ini :
Gb.2.1 macam-macam
sketsa
Sahabat
Perlu tahu
Sebelum
latihan membuat sketsa, ada baiknya melakukan latihan melemaskan tangan dengan
membuat berbagai jenis garis dengan pensil dan tinta. Latihlah tangan anda
menarik garis lurus tanpa bantuan mistar berulang kali sampai garis yang
dihasilkan kelihatan stabil, selanjutnya buat pula garis lengkung, zig-zag,
bergelombang dengan berbagai variasi ketebalan. Buatlah berbagai jenis garis
pendek-pendek dengan berbagai variasi dan komposisi agar tidak bosan. Pada
awaInya memang ragu namun jika sudah berulang kali garis anda akan terlihat
luwes dan indah.
Tugas
Mandiri Teori :
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas!
1. Apa yang anda ketahui tentang sketsa, jelaskan!
2. Di Bali,
membuat sketsa sudah dilakukan sejak zaman dahulu yang disebut ngreka, jelaskan!
3. Jelaskan
fungsi sketsa!
4. Jelaskan
aturan-aturan dalam membuat sketsa!
Tugas
Mandiri Praktek :
Bualtah minimal 2 buah gambar sketsa, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Tema :
a. alam benda.
b. makhuk hidup.
2. ukuran kertas gambar A4
3. Gunakan pensil H atau 2B untuk membuat garis-garis
skundernya.
4. Tebalkan garis-garis sketsa yang sudah benar dengan
Drawing Pen ukuran 0,3 mm
Tugas
Kelompok :
Buatlah kelompok, masing-masing terdiri dari ± 10 siswa.
Diskusikan dan apresiasi hasil karya masing-masing anggota kelompok, apa
kekurangan dan kelebihannya untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk
memperbaiki karya-karya seketsa yang anda buat!
Langganan:
Postingan (Atom)


